Dalam hidup bermasyarakat banyak beragam kompleks yang kita jalani bersama kultur sosial yang ada dalam warga. Mulai dari kegiatan sosial, keagamaan dan sampai kegiatan yang bersifat politik pun juga tak lepas dari pihak yang disebut masyarakat.
Hidup bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, artinya kebutuhan duniawi dan ukhrowi harus seimbang. Lain di ladang lain lubuk ikannya, di mana langit dijunjung di situ bumi di pijak.
Di dunia ini mungkin kita bisa menjalani aktivitas yang bersifat kejasmanian, tetapi kita harus ingat juga nanti ketika di akhirat sudah sesiap apakah kita.

Untuk mempersiapkan diri kita dihadapan Allah seyogyanya kita harus ingat bahwa di dunia ini semasa hidup, Allah hanya memanggil kita sebanyak tiga kali yang panggilan ini nanti akan mempengaruhi keadaan kita di akhirak kelak.

Panggilan Allah yang pertama adalah panggilan Allah ketika adzan berkumandang. Panggilan ini yang terkadang kita abaikan, tanpa sadar sebenarnya inilah panggilan Allah kepada makhluq-Nya, kalau kita renungkan sebenarnya Allah rindu dengan makhluq-Nya untuk menghampirinya satu hari semalam sebanyak lima waktu. Tapi kelalaian manusia yang memang hal tersebut sudah dipengaruhi oleh Syaiton menjadikan telinga kita seolah-oleh tertutup oleh gemerlap dunia yang kita jalani saat itu. Sementara coba kita menyadari apabila kita di panggil oleh orang yang kita kasihi betapa seketika kita langsung menghampirinya.

Adzan adalah panggilan Allah yang harus dijawab dengan melaksanakan sholat sebanyak lima waktu, kadang kita menunda-nunda terlebih dahulu karena tanggung ketika melakukan sesuatu “ah, ngko sik lah” (red: jawa), padahal kalau kita memohon kepada Allah ingin sekali do’a kita secepat mungkin terkabul, tetapi apakah kita sudah memberikan yang terbaik kepada Allah, “lha wong sholat aja tinggal waktu yang sisa-sia”, sudah selayaknya kita mendapatkan yang sisa-sisa dari Sang Maha Pencipta.

Panggilan Allah yang kedua adalah panggilan Haji. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menziarahi Baitullah, baik miskin-kaya, tua-muda semua berkesempatan sama. Namun caranya Allah memanggil bergiliran, inilah panggilan yang bersifat halus. Orang yang semula tidak punya biaya menjadi punya, ada yang tidak merencanakan ternyata akan berangkat, ada yang merencanakan dan juga selanjutnya mereka berangkat. Ini membuktikan bahwa panggilan Allah sangat mutlak untuk makhluq-Nya, tatkala Allah sudah berkata “Kun Fa Yakun” maka tiada satupun yang bisa menolak.

Panggilan Allah yang ketiga adalah “KEMATIAN”, panggilan yang tidak bisa dijawab dengan perkataan dan gerakan, tetapi bisa dijawab dengan amal perbuatan kita selama kita hidup di dunia. Apakah amal kita sholeh atau tholeh tergantung terhadap kita sendiri. Siapa yang akan tahu akan umur seseorang di dunia ini, tak ada satupun yang tahu, ayah, ibu, saudara, kakak, adik, nenek, kakek, lurah, camat, bupati, gubernur, presiden bahkan sekaliber paranormal pun tidak akan tahu kapan hidup manusia akan berakhir. Oleh karena itu, mari kita siapkan untuk menjawab panggilan Allah yang ketiga ini dengan cara berbuat yang terbaik selama hidup, dengan amal sholeh yang nanti sebagai penjawab ketika kita sudah di panggil oleh Yang Maha Kuasa. 

Pada akhirnya harapan kita sebagai umat muslim di akhir hayat kita adalah sebagai insan yang Husnul Khotimah dan ditempatkan di tempat yang terbaik. Dan dalam suasana Romadhon yang tinggal beberapa hari ini marilah kita manfaatkan waktu yang ada untuk beribadah sebaik-baiknya disertai keikhlasan kepada Allah dengan semata-mata mengharap Ridho-Nya.

Wallahu a’lam Bis Showab