“Al-Ittihaddu assaasunnajaah” ungkapan ini sederhana, namun
memiliki makna dan kesan yang mendalam jika direnungkan –mudah diucapkan dengan
lisan, akan tetapi sulit dilaksanakan dengan tindakana. Kurang lebih ungkapan
di depan tadi memiliki makna “Persatuan adalah kunci dari sebuah kesuksesan”.
Ibarat sebuah sapu lidi yang hanya terdiri satu ujung. Untuk
membersihkan sampah sangatlah sulit, butuh ketekunan dan ketelatenan, bahkan
sampai bermandi keringat belumlah selesai membersihkan sampah. Sementara itu
apabila sapu lidi terdiri dari beberapa ujung dan kita jadikan satu menjadi
satu kesatuan utuh dan kuat. Maka akan sangat mudah dan tidak perlu tenaga
besar untuk membersihkan sampah. Tenaga yang digunakan sangat ringan, dan masih
tersisa tenaga untuk melakukan aktivitas yang lain.
Saya melihat tradisi kebersamaan dalam aktivitas santri –yang
mungkn aktivitas ini sudah jarang kita temui, walaupun ada tidak semeriah dulu.
Tradisi ini dalam dunia pesantren disebut dengan tajammu’, makan
bersama-sama. Adapun makan bersama-sama bisa dari hasil masak bersama ataupun
ada salah satu santri yang dapat kiriman, baik dari saudara, sanak family,
maupun dari tetangga pesantren.
Persiapan makan bersama
Lebih jauh di dalam kitab Taisirul Kholaq—karangan
dari al-Hafidz Hasan al-Mas’udi—seorang ulama’ dari al-Azhar. Kitab ini adalah
kitab yang mengkaji akhlaq dalam karakter pelajar yang sedang menempuh ilmu,
agar kejumudan tidak menghantui dalam segala tindakan dan keadaan.
Aneka menu masakan (berbagai macam sambal)
Di dalam kitab tersebut tercantum tata cara atau etika makan.
Tertulis sebaiknya ketika makan mencari teman, dan membaca basmalah dengan
suara keras agar orang yang ikut makan bersamanya mengikuti membaca basmalah
atau doa, karena tidak dapat dipungkiri seseorang ketika sudah berhadapan
dengan makanan dan perut merasa kering kemerucuk serta merta doa sering
terlalai.
Perut terasa kenyang habis makan
Manfaat dari makan bersama dari sisi lain adalah mampu
membangun hubungan secara emosional antar teman, saling berbagi antar kawan,
dan percaya atau tidak rasa makanan yang dimakan secara bersama-sama akan
bertambah lezat. Menu angkringan akan terasa melebihi rasa menu di
restaurant-restaurant di hotel berbintang tujuh.
Bahan masakan
Pada titik inilah implementasi kebersamaan ini tetap dijaga
oleh santri Pondok Pesantren Panggung Tulungagung. Menjaga tradisi, mengurai
khazanah-khazanah santri peradaban klasik, sehingga selalu mengakar dalam hati
sanubari santri. Jauh dari sikap hidup hedonis, namun tidak kolot dan mampu
menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Itulah santri dalam tradisi
religi keilmuan yang sejati. (B. Fah)





0 Komentar