Lama nian saya tidak menulis status yang agak panjang. Rupanya ada rasa-rasa rindu yang bergejolak di dalam dada, bahkan muncul dari hati yang terdalam. Kali ini saya akan mengawali tulisan berstatus yang agak panjang, dan hanya merupakan tulisan ringan. Lebih pada catatan perjalanan mengelola rasa, dan bagaimana bersahabat dengan rekan yang notabene kita tidak pernah bersama-sama, namun dengan ikatan satu visi dan misi kita mampu bercengkrama dengan tidak keluar dari batas-batas wajar.
Perjalanan yang tidak sengaja ini berawal dari acara Dies Maulidiyah (DM) Racana yang ada di kampus tempat saya sempat menghabiskan beberapa tahun untuk meraup ilmu kehidupan. Tidak lama memang, namun sangat membekas sekali bagaimana proses belajar di tempat itu.
Malam setelah selesai acara DM, tepatnya sudah sampai dini hari. Ada kasak kusuk yang memameri gambar adanya suatu tempat wisata di Blitar, awalnya saya tidak tertarik. Namun, saya mengiyakan saja ketika di ajak mengunjunginya. Itung-itung mengisi waktu liburan. Sambil mentadabburi ciptaan Tuhan agar selain jalan-jalan supaya dicatat sebagai amal ibadah. Bagaikan pepatah sambil menyelam minum air.
Pagi hari sebelum melakukan perjalanan, saya harus berjuang melawan rasa kantuk. Karena semalaman begadang dengan kawan-kawan. Setelah sarapan, kurang lebih pukul 09.00 WIB kami mengawali perjalanan menuju tempat wisata yang dinamakan Kampung Coklat. Selang satu jam sampailah kami sampai di tempat tersebut.
Dua kata yang terucap dari mulut saya, “Luar Biasa”. Saya takjub dengan keadaan pemandangan yang disuguhkan di tempat ini. Baru pertama kalinya kaki mungilku menginjakkan tempat yang asri, sejuk, damai, dan nyaman. Walaupun tempatnya tidak di pegunungan atau perbukitan, akan tetapi rasa sejuk mampu terasa di relung jiwa yang haus akan siraman aura kesejukan.
Barangkali ada yang bertanya-tanya mengapa dinamakan kampung coklat. Saya sendiri juga masih bertanya-bertanya dalam hati kecil ini. walaupun, dalam kenyataannya saya sudah secara langsung menikmati dan melihatnya sendiri. Gambaran umumnya yang pasti adalah panoramanya mayoritas dipenuhi dengan pohon coklat atau kakao orang sering menyebutnya. Terdapat berbagai macam olahan coklat yang disajikan, tentunya dengan beberapa rupiah kita mampu membawanya pulang dan menikmatinya.
Saran saya kalau ke tempat wisata, belilah satu atau dua barang yang bersifat awet untuk mengenang bahwa kita pernah ke tempat tersebut. Supaya kita mampu mengingat apa saja dulu yang pernah kita lakukan sembari menikmati pemandangannya. Barang tersebut, ketika nanti kita lupa apa yang pernah kita lakukan di tempat yang pernah kita kunjungi, dia akan mampu berbicara. Seperti layaknya manusia yang mampu bercerita dengan elegannya.
Kurang lebih 3 (tiga) jam lamanya kami di tempat tersebut, ditemani dengan angin semilir yang menambah kesejukan, kami saling sharing, berbagi cerita, pengalaman, masa lalu, dan juga tentang hal yang mungkin dalam pikiran saya –yakin kami belum pernah menceritakan hal yang inspiratif ini kepada orang lain.
Motivasi untuk menjalani hidup lebih baikpun muncul ketika itu, dan harapannya tidak hanya saat itu saja motivasi seperti ini muncul, akan tetapi setiap detik dalam hembusan nafas akan keluar disertai motivasi yang semakin memikat.
Dan memang, saya kira wajar hal terbesar yang kita sharingkan adalah masalah asmara. Siapa yang mau memungkiri. Pasti semuanya akan mengamini. Memang dalam kapasitas inilah yang kita bahas. Hal seperti ini perlu, bukan untuk kita membicarakan kejelekan seseorang, dan memang hal seperti ini kita hindari betul. Kita belajar, kita mengambil pelajaran terbaik untuk mengarungi samudra kehidupan yang terbentang luas di hadapan masa depan. Kita mengambil pelajaran yang baik-baik, dan kita meninggalkan hal yang buruk. Hal yang semestinya tidak perlu kita adopsi. Dan yakinlah, hal seperti ini akan mampu kita kenang sampai kapanpun.
Di dunia ini, kita tidak hidup sendirian. Ada keluarga, ada teman, ada sahabat, dan ada Tuhan yang selalu bersama-sama dengan kita. Selalu berbuat baiklah dengan siapa saja, dimanapun berada dan kapan saja. Pertemuan singkat ini tidak ada yang tahu pasti kapan akan terulang lagi. Maka jangan sia-siakan, ukirlah kenangan berparas bunga, bahkan tidak hanya berparas bungan, namun juga berparas intan dalam makna persahabatan. Buatlah sejarahmu sendiri dengan mengukirnya sendiri semanis mungkin, dengan pena langkahmu sendiri. Ingat! Sejarahmu yang menulis adalah dirimu sendiri, bukan orang lain.