Judul tulisan di atas mungkin kurang menarik. Di sana-sini berserakan tulisan tentang jenguk menjenguk ini. Baik menjenguk family, saudara, dan juga teman. Bahkan Nabi Muhammad mengajarkan untuk menjenguk musuh yang sedang dilanda kesakitan.
Budaya menjenguk teman sudah saya alami ketika duduk di bangku sekolah dasar. Hal ini diajarkan kepada kami sebagai penanaman karakter, walaupun saat itu tidak ada istilah pendidikan karakter, seperti yang dikoar-koarkan saat ini.
Di dalam kurikulum juga tidak disebutkan. Namun, secara natural mengakar di dalam pengajaran dan pendidikan saat itu.
Budaya gotong royong, saling kerja sama, dan juga toleransi muncul di dalam kebiasaan menjenguk teman ini. Hal ini terlihat ketika kami mengumpulkan dana (uang) secara patungan untuk sekedar memberikan oleh-oleh kepada teman yang sakit tadi.
Kendatipun, secara kuantitas tidak seberapa. Namun dalam segi kualitas oleh-oleh ini menjadi dorongan spirit untuk segera sembuh. Selain itu, kunjungan kita ke teman juga menambah energi positif sebagai obat.
Karena saya yakin, obat untuk kesembuhan sakit tidak hanya berasal dari pil dalam tablet dan juga sirup dalam botol. Akan tetapi, perjumpaan dan tatapan mata dari teman juga guru yang mendampingi inilah yang mampu memberikan kesembuhan secara lebih cepat.
Saya yakin, manfaat dari menjenguk teman ini sangat vital. Dimana teman yang lain bisa mengetahui rumah teman yang sakit dan juga bagaimana kondisi rumahnya. Selain itu pastinya juga menambah keakraban silaturrahmi, baik antar teman, antar wali murid dengan guru, dan juga antar siswa dengan wali murid siswa dari temannya.
Yang menjadi pertanyaan dalam benak saya adalah --apakah kegiatan semacam ini masih dilakukan anak zaman sekarang? Seiring perkembangan zaman dan teknologi yang semakin masif, seolah-olah hal ini tidak terdengar lagi ditelinga.
Nilai kepedulian sosial yang semakin langka ini mengakibatkan terkikisnya tradisi lokal oleh pusaran waktu. Perlu adanya solusi-solusi cerdas agar kearifan tradisi sosial ini tetap lestari.