Saya menemukan ungkapan di atas ketika membuka-buka buku pelajaran bahasa Jawa. Terkumpul dalam materi paribasan, kurang lebih arti dalam bahasa Indonesia adalah, “Mengejar ikan teri, akan tetapi kehilangan ikan kakap”. Tentunya, kita mempunyai banyak tafsir tentang ungkapan di atas. Boleh kita memaknai mengabaikan hal-hal kecil untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, ada juga di sini dimaknai janganlah mengabaikan hal-hal yang sepele.
Mengabaikan hal-hal yang sepele terkadang malah akan menjadikan senjata makan tuan terhadap kita. Karena takut pada dosa besar, kita tergerak untuk menjauhinya dan menyelamatkan diri dari perangkap-perangkapnya. Namun seseorang yang takut minum racun dalam jumlah besar yang mematikan kadang-kadang menganggap remeh jika racun itu dalam jumlah yang sedikit.
Misalnya racun dalam makanan tak terbungkus atau makanan di atas piring kotor, atau makanan yang tercemar tangan kotor dan semisalnya. Bakteri atau kuman pada piring atau tangan kotor sesungguhnya merupakan racun, hanya saja dalam dosis yang sangat kecil. Seandainya racun-racun yang sedikit itu dihimpun dalam waktu lama, niscaya akan terkumpul racun dalam jumlah yang besar sehingga membuatnya rusak binasa. Orang yang meremehkan racun-racun kecil semakin lama semakin lemah dan akan mengalami suatu kematian.
Saya sering berujar kepada kolega dan teman-teman untuk selalu menjaga jenis makanan yang menyehatkan, jauh dari obat-obatan yang tidak selayaknya dijadikan campuran dalam proses pengolahan makanan. Kita harus pandai-pandainya memilah dan memilih makanan yang kaya akan gizi dan baik untuk tubuh. Mungkin di mata teman-teman ini adalah hal yang sepele, akan tetapi jika kita tahu dampaknya bagi kehidupan tubuh sangatlah dahsyat.
Terus terang, saya sendiri belum mampu untuk melakukan hal yang demikian. Namun saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak “JARKONI”, bisa berujar ndak bisa nglakoni. Sulit memang, apalagi dalam era sekarang ini, segala serba instan. Tak perlu disebut apa yang serba instan. Semua pasti sudah tahu menahu. Walapun sulit, bukan hal yang tak mungkin bagi kita apabila kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh.
Lebih jauh lagi, ada cerita antara “Slilit dan Sang Kiai”. Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Slilit Sang Kiai (2015). Apa yang disebut dengan slilit masih dalam perenungan yang mendalam. Tapi dapat kita gambarkan, kalau kita habis makan sate atau daging. Biasanya ada serabut-serabut daging yang bersembunyi di antara gigi itu, nah inilah yang dinamakan dengan slilit.
Namun apabila kita coba membeli tusuk slilit di pertokoan, dari pasar tradisional sampai mall. Pastikan tidak ada yang menjual tusuk slilit. Adanya adalah yang menjual tusuk gigi.
Mau dikata tusuk gigi atau tusuk slilit, yang menjadi perhatian khusus adalah hal sepele inilah yang mengancam kesuksesan sang kiai untuk memasuki surga. Ceritanya, setelah santrinya menguburkan sang kiai, mereka bermimpi bertemu kiai.
Terjadilah wawancara singkat. Kiai menyampaikan kepada santrinya, mendadak dia dipanggil oleh Tuhan. Perihal nasib sang Kiai, dia menyampaikan. “Baik-baik Nak. Dosa-dosaku umumnya diampuni. Amalku diterima. Cuma ada satu hal yang membuatku masygul. Kalian ingat waktu aku memimpin kenduri di rumah Pak Kusen? Sehabis makan bareng hadirin berebut menyalamiku, hingga tak sempat aku mengurus slilit di gigiku. Ketika pulang, di tengah jalan, barulah bisa kulakukan sesuatu. Karena lupa nggak bawa tusuk slilit, maka aku mengambil potongan kayu kecil dari pagar orang. Kini alangkah sedihnya: aku tak sempat minta maaf kepada yang empunya perihal tindakan mencuri itu. Apakah Allah bakal mengampuniku?”.
Para santripun ikut berduka. Kemudian membayangkan , alangkah lebih malangnya nasib sang Kiai bila slilit di giginya itu, serta tusuk yang dicurinya itu, sebesar gelondongan kayu raksasa di hutan Kalimantan. Lebih-lebih lagi kalau menyamai Hotel Asoka atau Candi Borobudur, setidaknya satelit Palapa.
Ada satu intensitas ruhani tertentu dari hidup manusia. Yakni tempat Tuhan begitu mutlak. Tempat pahala begitu sakral, dan dosa begitu menakutkan melebihi Banaspati. Intensitas itu tentunya tergantung kepada seseorang bagaimana dia mengolah dirinya dalam hidup.

0 Komentar