Di tengah hiruk pikuk pergantian tahun, banyak yang menandainya dengan berbagai macam acara. Menyalakan kembang api, membakar daging sapi atau kambing, membakar ayam sambil di sate. Bahkan ada yang mengenaskan, membakar perasaan.
Resolusi terhadap pergantian tahun yang baru kerap sekali diproklamirkan, baik melalui medsos berupa FB, Twitter, dan masih banyak lagi yang lain. Namun yang perlu diingat. Pergantian tahun hanyalah pergeseran bilangan, tidak dengan sendiri akan membawa suatu perubahan yang signifikan. Akan tetapi bagi yang menginginkan perubahan ke arah positif, harus dirubah pola dan kebiasaan hidup ke arah yang lebih baik pula.
Dengan keburukan benih yang kita tabur hari ini, masa lalu menjadi kelabu, masa depan menjadi dendam. Sementara sebaliknya, dengan kebaikan bibit yang kita tabur hari ini, masa lalu menjadi kemuliaan tabungan, dan masa depan akan kita tunai dengan kemanisan.
Nabi Muhammad berkata, “Sekiranya engkau tahu kiamat terjadi hari esok, sedang di tanganmu ada benih, maka tanamkanlah.” Meskipun nanti kita tidak akan memanennya. Namun setidaknya kita sudah menebar benih-benih kebaikan.
Orang barat sering berkata, “Times is money”, waktu adalah uang. Namun ungkapan itu tidak sepenuhnya tepat. Saya berpendapat, waktu lebih berharga dari sekedar uang. Waktu sekarang tidak akan bisa kembali hari esok. Namun apabila uang hilang hari ini, besok kita bisa mencarinya. Waktu juga tidak bisa tersimpan, baik dimanapun tempatnya. Berbeda dengan uang, ia masih bisa tersimpan baik di dompet, di almari, maupun di bank.
Waktu ibarat aliran sungai, “Tak ada seorang pun yang bisa melintasi sungai yang sama dua kali,” ungkap Heraclitus. Sungai terus mengalir dan manusia terus mengalami perubahan. Banyak orang yang menyia-nyiakan waktu, seolah waktu itu berlimpah, berputar melingkar.
Waktu terus berlalu, dan era digital semakin progres dalam perkembangannya. Setiap subjek yang ada di bumi, terkhusus manusia dituntut mampu menggunakan media teknologi yang tersedia. Termasuk dalam sekuelnya adalah pendidik atau guru. Apabila guru buta internet dan tuli Socmed maka tidak kemungkinan muridnya akan lebih pandai darinya.
Revolusi TIK merupakan sumber dari segala perubahan, tanpa terkecuali dunia pendidikan. TIK itu driver penggerak perubahan masyarakat. Mengutip dari bukunya J. Sumardianta, Habis Galau Terbitlah Move On (2014) ada tiga pergeseran yang di drive TIK.
Pertama, perubahan dari eksklusif menjadi inklusif. Dinding penyekat sosial dirobohkan internet. Masyarakat makin inklusif dan transparan. Kalau profesi pendidik mau sustainable, tak longsor wibawa, harus makin melek internet.
Kedua, pergeseran vertikal ke horisontal. Model relasi kuasa guru-murid dan dosen-mahasiswa sudah tidak relevan lagi. Guru bukan lagi satu-satunya sumber knowledge dan wisdom. Media sosial (FB, Twitter, BBM, Path, Instagram, You Tube) mengambrukkan guru-guru tiran.
Socmed mengubah lanskap sosial. Era nobody (bukan siapa-siapa) menjadi sombody (terpandang). Fatin Sidqia Lubis X-Factor tenar berkat Twitter. Era horizontalisasi socmed mengubah lanskap pendidikan. Guru sejajar dengan murid. Mereka tidak lagi mengobjekan murid.
Ketiga, sebagai konsekuensi inklusivitas dan horisontalisasi, terjadi pergeseran dari individual ke sosial. Guru dan murid menyatu dalam komunitas. Banyak contohnya di masyarakat kita temui.
Sudah bukan zamannya guru buta internet dan tuli socmed. Watak socmed itu dialog (interaktif). Beda dengan perilaku guru yang cebderung monolog saat interkasi dengan murid di kelas. Para guru bakal mati kutu bila pada era socmed cenderung bersikap eksklusif, pola relasinya tetap vertikal dan horizontal.
Guru zaman digital harus lebih inklusif, horisontal, dan sosial. Guru tidak bakal ditengok bila masih berparadigma analog. Guru era digital tidak mengajar dan mendidik dengan cara-cara zaman kertas. Zaman digital itu zaman VUCA: Vitality (dinamis dan cepat berubah), Uncertainty (sulit diprediksi), Complexity (rumit penuh komplikasi), dan ambiguity (membingungkan penuh paradoks).