Sering kita mendendangkan syair ketika selesai suatu majlis atau pertemuan, sekadar melantunkan do'a kemudian diikuti oleh sholawat atau qosidah. Salah satunya petikan bagian lirik "Maulaa ya sholli wa sallim daa iman abadaa .... ila akhirihi".

Ketika membuka youtube pun saya sering mendengarkan lantunan ini, paling favorit adalah yang dilantunkan oleh Maher Zain. Suaranya khas, empuk, seperti suara Arab tapi tidak kearab-araban, bahkan mirip suara orang Timur. 

Asal-usul petikan Kasidah di atas, konon ada orang tua yang menderita penyakit aneh. Sebagian tubuhnya lumpuh. Ia bermunajat kepada Allah sambil mengucurkan air mata memohon kesembuhan. Tak lupa ia menyenandungkan syair-syair pujian untuk Nabi Muhammad, berharap syafaat dan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya

Suatu malam, orang itu tertidur, sehingga menghentikan bibirnya untuk melantunkan syair-syair pujian.

Dalam tidurnya yang nyenyak, ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad, dan kemudian Nabi memberikan jubah (burdah) kepada orang itu. Nabi mengusap bagian yang lumpuh. Esok paginya ketika bangun orang tersebut tiba-tiba mampu berjalan. Senang sekali rasanya, iapun berjalan-jalan di pasar sambil melantunkan syair-syair pujian.

Orang itulah yang bernama Imam Bushiri. Ia terlahir pada tahun 1212. Dan, syair yang ia ciptakan bernama Kasidah Burdah.

Buku Gus Nadhir (dok. pribadi) 

Menukil bukunya Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, yang berjudul "Mari Bicara Iman" (Zaman: 2011), Kasidah Burdah terdiri dari 162 sajak dan di tulis setelah Bushiri menunaikan ibadah haji di Makkah.

Masih menurut Gus Nadhir, sapaan akrab Prof. Dr. Nadirsyah Hosen. Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16 bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian ujtuk Nabi, 19 tentang kelahiran Nabi, 10 tentang pujian terhadap Al-Qur'an, 3 tentang Isra' Mi'raj, 22 tentang jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait)  tentang tawassul dan munajat.

Dengan memaparkan kehidupan Nabi secara puitis, Bushiri bukan saja menanamkan kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad, melainka juga mengajarkan sastra, sejarah Islam, dan nilai-nilai moral kepada kaum muslim. Oleh karenanya, tidak mengherankan apabila Kasidah Burdah senantiasa dibacakan di pesantren-pesantren salaf.

Setelah ba'da ngaji misalnya, entah mengaji kitab kuning atau mengaji pemikiran-pemikiran ulama' salaf di dalam majlis di pesantren salaf tidak luput untuk mendendangkan syair-syair ini. Memang selain disebutkan di atas--untuk kesembuhan--dengan melantunkan syair-syair Kasidah Burdah diharapkan bisa mendapatkan sebuah barakah dari segala yang dilakukan saat itu. 

Dalam khazanah kaum sufi, jubah juga merupakan simbol sangat penting. Bahkan, jubah Nabi pun pada zamannya diwariskan secara turun-temurun.

Saya kira inilah nilai-nilai religius yang seyogianya penting untuk dirawat, dengan merawat nilai-nilai religius yang semacam ini, generasi-generasi kita yang selanjutnya akan mewarisinya, kemudian akan melanjutkan dan merawat tradisi-tradisi tersebut agar tidak hilang tergerus oleh nilai-nilai yang berdatangan tanpa bisa dicegah.