Pandemi yang
terjadi di tahun ini seperti sebuah fenomena yang mencengangkan. Seolah mayoritas
semua orang kehilangan produktivitasnya. Ekonomi semakin menurun, mobilitas
kerja berkurang, sekolah menjadi daring, bahkan kerjapun dari rumah seperti
istilahnya Work From Home (WFH).
Akan tetapi
tidak dengan produktivitas menulis, seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan
dari dosen IAIN Tulungagung. Dengan menginisiasi penulisan buku antologi, aspek
ini digunakan untuk terus memupuk dan merawat agar konsistensi menulis tetap
berlangsung, meski pandemi sedang menghantui.
Buku yang
berjudul Lebaran di Tengah Pandemi ini sebenarnya merupakan buku ketiga yang
ditulis secara keroyokan. Sebelum kami menggarap buku yang berjudul Kuliah Daring dan Work From Home. Kedua buku tersebut Alhamdulillah telah lahir
dengan selamat sebagai kakak beradik dan keduanya kembar. Kemudian disusul
dengan buku ini. Buku ini juga lahir kembar, yang kami beri nama Lebaran di
Tengah Pandemi 1 dan Lebaran di Tengah Pandemi 2.
Buku ini
mencoba memberikan potret dan persfektif baru tentang adanya lebaran dengan pola
baru, atau lebaran dengan kebiasaan baru. Meski buku ini ditulis oleh semua
dosen, namun potret dan persfektif baru dari peristiwa lebaran disuguhkan
dengan begitu banyak macam dan warna.
Hal ini
boleh jadi para penulis memang profesinya sama, yaitu dosen. Namun ada beberapa
perbedaan yang menjadikan buku ini kaya akan isi, yaitu latar belakang dan asal
penulis dari berbagai daerah, masa kecil yang dilalui saat di kampung, dan juga
tempat tinggal yang sekarang menjadi tempatnya beraktivitas.
Sehingga sudut pandang dari para penulis menjadi penyebab perbedaan, dan inilah yang justru menciptakan kekayaan dan kekhasan budaya bagi umat muslim di Indonesia. Dalam konteks inilah tulisan-tulisan di dalam buku ini penting untuk dibukukan.
Kebudayaan tidak
boleh mati, budaya baru harus tercipta. Budaya bukan barang mati. Spirit ini
yang semestinya dijaga. Kebudayaan yang sudah ada hendaknya diabadikan dengan
tulisan, sehingga akan dapat dibaca oleh generasi selanjutnya. Tataran inilah
yang akan menginspirasi guna melahirkan budaya-budaya baru sesuai dengan
kebutuhan zaman.
Media tulisan—seperti
buku—dapat mengambil peran penting dalam proses lahirnya budaya-budaya baru. Satu
buku, idealnya menginspirasi para pembaca untuk berbuat sesuatu dari hasil bacaan.
Satu hal
yang tidak kalah penting pada kondisi ini adalah komitmen dan konsistensi
menulis dalam keadaan dan kondisi apapun. Kondisi pandemi seperti sekarang ini
bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya. Pandemi boleh menghantui, akan tetapi
menulis harus tetap diupayakan.


2 Komentar
سبحان الله
BalasHapusAjib ajibbb
BalasHapus