Ahmad Fahrudin


 

Pandemi yang terjadi di tahun ini seperti sebuah fenomena yang mencengangkan. Seolah mayoritas semua orang kehilangan produktivitasnya. Ekonomi semakin menurun, mobilitas kerja berkurang, sekolah menjadi daring, bahkan kerjapun dari rumah seperti istilahnya Work From Home (WFH).

Akan tetapi tidak dengan produktivitas menulis, seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan dari dosen IAIN Tulungagung. Dengan menginisiasi penulisan buku antologi, aspek ini digunakan untuk terus memupuk dan merawat agar konsistensi menulis tetap berlangsung, meski pandemi sedang menghantui.

Buku yang berjudul Lebaran di Tengah Pandemi ini sebenarnya merupakan buku ketiga yang ditulis secara keroyokan. Sebelum kami menggarap buku yang berjudul  Kuliah Daring dan Work From Home. Kedua buku tersebut Alhamdulillah telah lahir dengan selamat sebagai kakak beradik dan keduanya kembar. Kemudian disusul dengan buku ini. Buku ini juga lahir kembar, yang kami beri nama Lebaran di Tengah Pandemi 1 dan Lebaran di Tengah Pandemi 2.

Buku ini mencoba memberikan potret dan persfektif baru tentang adanya lebaran dengan pola baru, atau lebaran dengan kebiasaan baru. Meski buku ini ditulis oleh semua dosen, namun potret dan persfektif baru dari peristiwa lebaran disuguhkan dengan begitu banyak macam dan warna.

Hal ini boleh jadi para penulis memang profesinya sama, yaitu dosen. Namun ada beberapa perbedaan yang menjadikan buku ini kaya akan isi, yaitu latar belakang dan asal penulis dari berbagai daerah, masa kecil yang dilalui saat di kampung, dan juga tempat tinggal yang sekarang menjadi tempatnya beraktivitas.

Sehingga sudut pandang dari para penulis menjadi penyebab perbedaan, dan inilah yang justru menciptakan kekayaan dan kekhasan budaya bagi umat muslim di Indonesia. Dalam konteks inilah tulisan-tulisan di dalam buku ini penting untuk dibukukan.

Kebudayaan tidak boleh mati, budaya baru harus tercipta. Budaya bukan barang mati. Spirit ini yang semestinya dijaga. Kebudayaan yang sudah ada hendaknya diabadikan dengan tulisan, sehingga akan dapat dibaca oleh generasi selanjutnya. Tataran inilah yang akan menginspirasi guna melahirkan budaya-budaya baru sesuai dengan kebutuhan zaman.

Media tulisan—seperti buku—dapat mengambil peran penting dalam proses lahirnya budaya-budaya baru. Satu buku, idealnya menginspirasi para pembaca untuk berbuat sesuatu dari hasil bacaan.

Satu hal yang tidak kalah penting pada kondisi ini adalah komitmen dan konsistensi menulis dalam keadaan dan kondisi apapun. Kondisi pandemi seperti sekarang ini bukan menjadi alasan untuk tidak berkarya. Pandemi boleh menghantui, akan tetapi menulis harus tetap diupayakan.