Oleh: Ahmad Fahrudin (Penjual Sayur)
Jamak diketahui tanggal 25 November adalah hari yang dielu-elukan sehingga diperingati oleh masyarakat Indonesia semacam murid, guru, dan juga personal yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Sehingga disebut dengan Hari Guru Nasional. Andaikata yang merayakan tukang sayur pasti dinamakan dengan Hari Sayur Nasional.
Dahulu orang sering menyebut dengan sebutan "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa", mungkinkah sebutan yang demikian masih relevan dengan era kini, atau sudah tergeser dengan berbagai kepentingan untuk aspek kehidupan yang terkait. Saya tidak tahu pasti, tapi saya sangat yakin, andaikata di negara yang disebut dengan nusantara ini tidak ada yang namanya guru, Bibit-bibit generasi bangsa sudah tak tahu arah tujuan yang jelas untuk mengapa mereka hidup.
Saya teringat ketika diajarkan baca-tulis oleh guru saya waktu masih kecil, beliau-beliau mengajarkan membaca dengan cara mengeja (jawa: mengejrah), ingatan saya lebih tajam akan hal yang demikian, dibanding dengan ajaran guru-guru saya ketika mengenyam pendidikan di bangku SMA, saya sudah tak yakin bisa mengaplikasikan rumus-rumus yang diajarkan sekarang ini. Entah mengapa, otak saya memang tidak begitu cerdas untuk mengingat-ingatnya.
Bahkan di bangku belajar TPQ-TPA, huruf-huruf Hijaiyyah yang diajarkan para ustadz-ustadzah masih teringat sampai sekarang, Alif, Ba', Ta' dan seterusnya saya hapal betul.
Memang banyak beberapa faktor, satu yang saya yakini dari hal demikian. Guru-guru dan ustadz-ustadzah saya ketika masih kecil, beliau-beliau memang benar-benar membhaktikan dirinya untuk mengajar dengan ikhlas, bahkan tidak hanya mengajar materi-materi yang secara kontekstual, akan tetapi, beliau-beliau juga memberikan pendidikan berupa ahlak yang sangat indah, bagaimana cara yang benar menghormati dan memuliakan orang tua, guru, menyayangi yang lebih muda, menghormati yang lebih tua, dan lain sebagainya. Bagaimana dampaknya? sangat terlihat jelas sekali.
Tentu, saya tidak menafikan guru-guru saya di tingkatan yang lebih atas, saya tetap mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap beliau-beliau. Faktor demikian terjadi tidak hanya pada guru semata, tetapi ketika sudah remaja, pribadi masing-masing pembelajar juga sangat berpengaruh, sudah mulai mengenal dunia luar dan dunia-dunia remaja, sekali lagi, kembali pada pribadi anak itu sendiri. Bagi yang mampu mengendalikan diri dan tetap pada jalur yang benar, punya kesempatan besar bagi mereka bisa sukses masa depannya, sementara itu--sebaliknya mereka yang tak mampu berkendali diri, dia akan terjerumus ke jurang yang tidak diinginkan, dan kesempatan untuk sukses sangatlah tipis.
Tugas guru sangatlah berat, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, Al-Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghozali mengatakan "Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya."
Perkara demikian juga diamini oleh Pramoedya Anananta Toer lewat kalimat filosofisnya, "Seorang guru adalah korban, korban untuk selama-lamanya. Dan kewajibannya terlampau berat, membuka sumber kebajikan yang tersembunyi dalam tubuh anak-anak bangsa."
Maka dari itu, kepada guru-guru saya, MI NU Tarbiyatul Islamiyah, MTs Negeri Aryojeding, SMAN 1 Boyolangu, IAIN Tulungagung, TPA-TPQ, Madrasah Diniyah, guru-guru di Pondok Pesantren Panggung Tulungagung, dan juga guru kehidupan, semoga tetap diberikan kesehatan dan juga kesempatan untuk membagikan ilmu-ilmu kepada murid-muridnya. Kepada guru-guru saya yang sudah meninggal semoga diberikan tempat terbaik di sisi-Nya (Lahumul Fatihaah).
Karena tanpa beliau-beliau semuanya langkah kaki saya tak mampu sampai sejauh ini. Tetaplah jadi pelita penerang kehidupan bagi murid-muridmu.


1 Komentar
Dan kini, penulis berkecimpung langsung dalam dunia pendidikan.
BalasHapus