Sudah barang tentu, ilmu itu dicari, kalau tidak dicari dari mana datangnya ilmu itu. Berdiam diri di rumah atau mungkin enak-enakan dalam gemerlapnya dunia, tanpa berpikir panjang bagaimana ke depannya nanti. Niscaya kealpaan akan ilmu itu yang akan kita dapati.

Sudah kita ketahui bersama dalam sebuah Maqolah yang berbunyi "Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, dan beramalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi", pesan ringkas dari sebuah Maqolah ini sangat sederhana, tetapi sarat dengan makna yang mendalam. Apabila boleh menafsiri, maka namanya hidup harus seimbang, seimbang dalam perkara dunia, juga seimbang dalam perkara akhirat. Bagaikan dua sisi mata uang logam, itulah dua perkara yang tidak bisa dipisahkan.

Tetapi terkadang manusia lupa terhadap bekal yang nantinya akan dibawa menuju kehidupan sejati, yaitu kehidupan setelah kehidupan dunia. kehidupan yang tidak akan membawa harta benda, dan juga kehidupan yang tidak akan membawa hingar bingar sesuatu yang menyilaukan mata di dunia ini.

Tiga hal yang akan menemani kita dalam mengarungi bahtera kehidupan yang hakiki, membantu kita dalam melewatinya untuk menghantarkan menuju Illahi Robbi, yaitu; Shodaqoh Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh senantiasa mendo'akan kedua orang tuanya, baik orang tua tersebut masih hidup maupun sudah wafat.

Shodaqoh Jariyah tidak hanya dengan harta benda, semisal uang, tanah, bangunan dan lain sebagainya. Shodaqoh Jariyah bisa diserupakan dengan ilmu, artinya ilmu yang kita miliki harus bisa kita bagikan, bagai menebar benih padi yang akan disemaikan, maka padi itu akan bisa dipanen pada akhirnya. membagikan ilmu juga demikian, apabila ilmu kita bagikan dengan syarat tulus ikhlas, maka kita juga akan memanennya kelak di akhirat sebagai amal jariyah.

Ilmu yang bermanfaat dalam prespektif saya adalah bukan sekadar ilmu yang hanya kita kuasai, akan tetapi adalah ilmu yang kita amalkan dan membawa kemanfaatan untuk sesama, bagaikan pohon yang tidak ada buahnya ketika ilmu tidak bisa kita amalkan. Ilmu yang sedikit tapi bisa kita amalkan akan lebih baik, daripada ilmu seluas samudra tapi tidak ada pengamalannya. Ilmu tanpa amal adalah hampa, amal tanpa ilmu adalah sia-sia.

Anak yang sholeh-sholehah adalah dambaan setiap orang tua, sekalipun orang tua itu preman, pasti mengharapkan anaknya sholeh, sekalipun orang tuanya beratato dan mangkal di pasar sebagai pemalak pasti dia menginginkan anaknya pandai ilmu agama, mengaji, dan berguna bagi nusa bangsa. Apabila posisi kita sebagai anak, kita patut introspeksi diri,  sudahkah kita bisa menjadi kebanggaan dan harapan orang tua? Sudahkan kita setiap hari mendo'akan kedua orang tua kita?

Mari kita mengaca dan berusaha terus untuk menjadi anak yang membahagiakan orang tua. Suatu saat nanti pasti keadaan yang seperti ini, keadaan yang di mana kita menjadi orang tua, rindu akan buah hati kita yang selalu mendo'akan kita. "Man yazro', yahsud"